Feny Sayang Banget Papa

Feny Sayang Banget Papa – Selepas SMA, Fenti, waktu itu 20 tahun, melanjutkan studinya ke Akademi Sekretaris ternama di Bandung. Dengan wajah sangat cantik, tubuh tinggi semampai, dan kemampuan akademis yang cukup baik, pantaslah kalau Fenti memasuki akademi tersebut. Pacar Fenti sejak SMA, Ronald, tetap setia dan semakin serius dalam menjalin hubungan dengan Fenti.

Feny Sayang Banget Papa

Feny Sayang Banget Papa

“Mau kemana lagi, Fen?” tanya Ronald sambil melirik ke Fenti.
“Pulang, ah.. Aku capek sehabis ujian tadi,” jawab Fenti sambil bersandar pada jok mobil, matanya terpejam.

Ronald sekilas melirik pada paha Fenti yang putih mulus. Rok mini yang dipakai Fenti naik tersingkap dengan posisi duduk Fenti tersebut.

“Fen, kita ke hotel dulu, ya..?” ajak Ronald.
“Yee, kamu horny ya?” kata Fenti melirik Ronald sambil tersenyum.
“Habisnya aku tidak tahan melihat kamu…” kata Ronald sambil tersenyum pula.
“Ya sudah, mau dimana?” tanya Fenti sambil tangannya mengelus paha Ronald yang sedang mengemudi.

Ronald tak menjawab. Hanya senyuman saja yang tampak di wajahnya sementara mobil diarahkannya menuju sebuah hotel..

“Buka dong semua pakaian kamu,” kata Ronald sementara dia sendiri melucuti semua pakaiannya.
“Ih dasar otak horny!” kata Feny tersenyum sambil melepas seragam kuliahnya.
“Aku cinta kamu..” kata Ronald sambil memeluk tubuh telanjang Fenti dari belakang.

Satu tangan meremas buah dada Feny, sementara satu tangan mengelus dan mengusap mekinya.

“Mmhh…” desah Feny sambil terpejam. Tangan Feny menggenggam penis Ronald yang sudah tegak dan sesekali mengenai belahan pantatnya.
“Mmhh.. Enak sayang…” bisik Ronald ketika Feny mengocok penisnya.

Feny tersenyum dan langsung membalikkan badannya menghadap Ronald lalu mengecup bibirnya. Ronald membalas kecupan bibir Feny dengan hangat.

“Hisap, dong…” bisik Ronald di telingan Feny.

Feny tersenyum sambil merendahkan badannya dan langsung berjongkok. Wajahnya tepat di depan penis Ronald yang sudah berdiri tegak. Lidah Feny mulai menjilati kepala penis Ronald sementara tangannya tetap mengocok batangnya.

“Ohh.. Enak sayang…” bisik Ronald sambil memompa penisnya pelan ketika Feny mulai mengulum batang penisnya.

Jilatan, hisapan serta kocokan tangan Feny pada penisnya membuat Ronald mengejang menahan nikmat.

“Gantian dong…” kata Feny sambil bangkit setelah beberapa waktu.

Feny bersandar ke dinding sambil berdiri. Ronald jongkok lalu diciumnya bulu kemaluan Feny. Feny memejamkan matanya dan melebarkan kakinya ketika lidah Ronald mulai menelusuri belahan mekinya.

“Oww.. Enak banget, sayang,” kata Feny sambil memegang kepala Ronald dan mendesakan ke mekinya.

Pinggulnya bergerak naik turun ketika lidah Ronald bermain di lubang meki dan kelentitnya bergantian.

“Ohh.. Sshh…” desis Feny merasakan kenikmatan yang tak terhingga.

Feny terpejam dan mendongak sambil mendesakkan kepala Ronald lebih keras ke mekinya ketika ada sesuatu yang sangat nikmat tiada tara yang mau keluar..

“Ohh.. Ohh.. Ohh…” Feny menjerit pelan tertahan ketika mencapai puncak orgasmenya.

Terasa ada yang menyembur hangat enak di dalam mekinya.

“Mmhh.. Enak sekali sayang,” kata Feny sambil agak membungkuk lalu mencium bibir Ronald yang masih basah oleh cairan mekinya.

Cerita Sex Sedarah – Ronald sepertinya sudah tidak tahan lagi. Setelah membalas ciuman Feny sesaat, segera ditariknya tubuh Feny ke atas ranjang. Feny telentang sambil membuka kakinya lebar. Dengan tak sabar Ronald segera menaiki tubuhnya lalu mengarahkan penisnya ke meki Feny. Tangan Feny segera menggenggam dan membimbing penis Ronald ke lubang mekinya. Dengan sekali desakan, penis Ronald sudah masuk ke meki Feny. penis Ronald keluar masuk meki Feny disertai bunyi khas..

“Mmhh…” Feny mendesah sambil terpejam sementara pinggulnya bergoyang mengimbangi gerakan Ronald.
“Enak sekali, sayangghh…” desah Ronald.

Setelah beberapa waktu dan beberapa posisi bersetubuh mereka lakukan, Ronald hampir mencapai puncak kenikmatannya. penis Ronald semakin cepat keluar masuk meki Feny. Ketika puncaknya, Ronald segera mencabut penisnya lalu turun dan berdiri di pinggir ranjang. Feny yang sudah terbiasa, langsung mengerti. penis Ronald yang masih basah oleh cairan mekinya segera dikulum han dihisap kuat sambil dikocok pelan. Ronald terpejam sambil memegang kepala Feny dan mendesakkan penisnya agak dalam ke mulut Feny. Tak lama, crott! Crott! Crott! Air mani Ronald tumpah di dalam mulut Feny yang terus menghisap penisnya.

“Wohh.. Enak sekali, sayang,” ujar Ronald dengan nafas berat.

Feny tersenyum sambil menjilati batang dan kepala penis Ronald dari sisa air maninya yang masih menempel. Lalu mereka berciuman..

“Cepat pulang ah…” kata Feny setelah mereka selesai berpakaian dan merapikan diri.
“Ya sayang…” kata Ronald sambil menggandeng Feny keluar kamar.

Sesampai di rumah, Ronald segera pulang setelah berpamitan kepada Papa dan mama Feny.

“Lama amat sih, Fen?” tanya mamanya.
“Iya, mam.. Tadi kami nyimpang dulu ke tempat makan,” kata Feny ringan sambil segera ke kamarnya untuk ganti pakaian.

Malam harinya, ketika mereka sedang nonton TV, Papa dan Mama Feny segera bangkit dari tempat duduk karena sudah waktunya jam tidur.

“Kamu jangan terlalu malam begadang, nanti sakit kepala,” kata mamanya kepada Feny.
“Iya, Mam.. Tanggung nih film sedang seru-serunya,” kata Feny sambil matanya terus melihat TV.

Feny Sayang Banget Papa

Lalu mereka segera masuk kamar. Setelah beberapa menit, telinga Feny menangkap suara ranjang berderit berulang-ulang. Sebetulnya Feny sudah mengerti apa yang sedang terjadi di kamar orang tuanya. Feny bersikap cuek saja awalnya. Tapi rasa penasaran dihatinya membuat Feny ingin mengintip mereka. Segera Feny bangkit lalu mengendap mengintip dari lubang kunci. Walaupun tidak terlalu jelas tapi Feny dapat melihat Papa Mamanya sedang bersetubuh.

Darah Feny berdesir karenanya. Ketika mata Feny melihat buah zakar dan penis papanya yang keluar masuk meki Mamanya, darahnya makin berdesir. Matanya lebih jelas lagi melihat penis papanya ketika mereka telah selesai bersetubuh, papanya bangkit dan mengelap penisnya yang basah. Tampak jelas di mata Feny betapa penis papanya lebih besar dari penis Ronald. Feny segera berdiri, mematikan TV lalu segera bergegas masuk kamarnya. Di atas ranjang, Feny tidak bisa memejamkan matanya. Terbayang terus persetubuhan Papa Mamanya tadi, terlebih ketika terbayang penis Papanya yang besar.. Perasaan Feny jadi gelisah.

Sejak saat itu Feny secara sadar arau tidak selalu memperhatikan gerak gerik Papanya. Apalagi bila Papanya hanya memakai kolor saja. Mata Feny selalu mencuri pandang ke paha dan selangkangan Papanya. Papa Feny waktu itu berumur 43 tahun. Badannya bersih dan tegap.

Suatu malam..

“Pijitin pundak Papa, Fen.. Pegal amat,” kata Papa Feny waktu mereka nonton TV.
“Kalau begitu Papa duduk di bawah biar Feny gampang mijitnya,” kata Feny.

Papanya segera turun dari kursi lalu duduk di lantai. Feny segera memijit pundak Papanya sambil nonton TV.

“Mama ngantuk ah.. Mau tidur duluan, Pa…” kata Mamanya sambil bangkit dan menuju kamarnya.
“Feny Sayang Banget Papa,” bisik Feny sambil merangkulkan tangannya ke leher Papanya.
“Nah, biasanya suka ada maunya kalau kamu sudah begini,” kata Papanya sambil tersenyum dan menoleh ke Feny.
“Mm.. Feny tidak minta apa-apa kok, Pa…” bisik Feny lagi manja.
“Feny hanya mau bilang kalau Feny Sayang Banget Papa,” kata Feny sambil mencium pipi Papanya.

Papanya diam sambil tersenyum sambil tanganya memegang tangan Feny yang sedang memeluk dirinya dari belakang.

“Tumben kamu manja begini,” kata Papanya sambil menoleh dan menatap Feny lama.

Feny tersenyum lalu mencium pipi Papanya lagi berkali-kali. Darah Feny mulai berdesir.

“Ada apa sih, Fen?” kata Papanya lagi sambil tersenyum.

Ucapan Papanya tidak bisa terus ketika bibir mungil Feny mengecup bibirnya.

“Feny sangat sayang Papa,” bisik Feny lirih sambil bibirnya melumat hangat bibir Papanya.

Papa Feny pada awalnya kaget atas tindakan putrinya ini, tapi lama kelamaan sentuhan hangat bibir Feny bisa menghangatkan perasaan dan gairahnya. Dibalasnya ciuman Feny dengan hangat pula.

“Mm…” suara Feny terdengar pelan.

Papa Feny bangkit lalu duduk berhadapan dengan Feny. Kembali dilumat bibir Feny dengan agak panas. Fenypun membalasnya dengan agak panas pula. Tangan Feny bergerak ke arah selangkangan Papanya. Sambil tetap berciuman diremasnya pelan penis Papanya. Terasa penis Papanya mulai bergerak tegak dan tegang..

“Feny Sayang Banget Papa,” kembali Feny berbisik.
“Papa juga sama…” kata Papanya dengan nafas memburu.
“Jangan disini, Pa.. Nanti Mama tahu,” kata Feny sambil bangkit dan menarik tangan Papanya ke kamar belakang.

Papanya menurut mengikuti Feny. Feny langsung memeluk dan melumat bibir Papanya dengan liar, Papanyapun membalasnya semakin panas. Tangan Feny mulai berani disusupkan dan masuk ke celana kolor Papanya, lalu tanpa ragu menggenggam dan meremasnya pelan.

“Mmhh…” suara Papanya tertahan karena masih berciuman.

Feny kemudian melepaskan pelukannya lalu merendahkan tubuhnya hingga jongkok. Diperosotkan celana kolor Papanya sampai lutut hingga penis besarnya yang tegak tampak di depan wajahnya. Feny mengocok pelan penis Papanya lalu segera mengulumnya. Papanya terpejam sambil memegang kepala Feny.

“Ohh…” desah Papanya.

Dimaju mundurkan penisnya di dalam mulut Feny. Setelah beberapa lama, tubuh Papanya bergetar lalu… Crott! Crott! Crott! Air mani Papanya muncrat di dalam mulut Feny. Feny dengan tenang menelannya habis. Feny lalu berdiri sambil tersenyum.

“Feny pengen, Pa..” pinta Feny berbisik.
“Tidak bisa sekarang sayang,” kata Papanya sambil membetulkan celananya.
“Kapan, Pa?” kata Feny sambil memeluk dan mengecup bibir Papanya.
“Kamu pulang kuliah jam berapa?” tanya Papanya.
“Jam 11, Pa…”
“Kalau begitu Papa jemput kamu di kampus jam 12 untuk makan siang, lalu kita cari tempat…” kata Papanya sambil tersenyum.
“Iya, Pa…” kata Feny sambil tersenyum pula.
“Kasih tahu pacar kamu untuk tidak jemput, ya?” kata Papanya. Feny mengangguk.
“Sekarang tidurlah,” kata Papanya sambil mencium bibir Feny mesra.

Besok harinya sesuai dengan rencana, Feny dijemput di kampus.

“Mau makan siang dimana?” tanya Papanya.
“Tidak usah makan siang, Pa…” kata Feny manja.
“Langsung saja…” kata Feny tersenyum.

Papa Fenypun tersenyum. Mobil langsung di arahkan ke hotel. Di dalam kamar, mereka langsung berciuman. Feny menatap mata Papanya lalu melepas kancing kemeja Papanya satu demi satu.

“Biar Papa buka sendiri biar cepat. Waktu kita sedikit sayang. Papa harus segera ke kantor lagi,” kata Papanya sambil tersenyum lalau melepas semua pakaiannya.

Feny juga sama. Tubuh Feny telentang di atas ranjang. Papanya segera duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai mengelus dan meremas buah dada Feny. Feny terpejam menikmati belaian Papanya itu. Sementara tangannya dengan segera meraih penis Papanya yang sudah tegang besar. Diremas dan dikocoknya pelan. Tangan Papanya mulai turun ke meki Feny. Diusap dan di gosoknya meki Feny dengan mesra. Lalu salah satu jarinya mulai memainkan kelentit dan lubang mekinya bergantian. Feny terpejam sambil menggigit bibir sementara tangannya tak henti mengocok penis Papanya.

“Cepat masukkan, Pa…” pinta Feny.

Papanya tersenyum lalu bangkit dan segera menaiki tubuh anaknya. Disentuhkan penisnya ke meki ke belahan meki Feny. Feny menatap mata Papanya sambil tangannya segera meraih penis dan mengarahkan ke lubang mekinya. Dengan sedikit desakan, penis Papanya perlahan masuk ke meki Feny. Feny terpejam merasakan rasa nikmat dari orang yang sangat disayanginya. Tak terasa air matanya mengalir di pipi.

“Ada apa sayang?” tanya Papanya sambil terus memompa penisnya.
“Feny sangat bahagia bisa bersama Papa saat ini,” kata Feny sambil memeluk erat Papanya.
“Feny sangat sayang Papa,” bisik Feny.
“Papa juga sangat sayang kamu,” kata Papanya.

Feny tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggul Papanya. Kenikamatan dan sensasi yang sangat luar biasa dirasakan oleh Feny saat itu. Siang itu Feny dan Papanya dengan liar bersetubuh bermandi peluh dan desahan serta jeritan kenikmatan. Sampai akhirnya terasa penis Papanya berdenyut tanda akan mencapai orgasme. Dicabutnya penis dari meki Feny lalu digesek-gesekan ke belahan mekinya. Tapi Feny dengan segera bangkit dan langsung menghisap serta mengocok penis Papanya sampai akhirnya.. Crott! Crott! Air mani Papanya menyembur banyak di dalam mulut Feny. Feny menelannya dengan tenang lalu tersenyum. Papanya lalu mencium bibir Feny.

“Kamu hebat sayang…” bisik Papanya.
“Lebih hebat dari Mama kamu,” kata Papanya lagi.
“Feny Sayang Banget Papa…” bisik Feny sambil tersenyum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *